" Saya suka menulis waktu merasa kesal. Itu seperti bersin yang melegakan " - D.H Lawrence -

Jumat, 08 Juni 2012

Museum Mulawarman, Seuntai Mutiara dari Kutai Kartanegara


Kutai Kartanegara dengan pesona Mahakam-nya meninggalkan puing-puing sejarah yang lama menghuni lorong waktu berabad-abad. Gemerlap kejayaan yang pernah tereguk bukanlah merupakan perjalanan singkat tanpa makna dan mudah dilupakan begitu saja. Berawal dari Kerajaan Kutai yang dikenal sebagai kerajaan tertua di Indonesia, kini catatan demi catatan sejarah Kerajaan Kutai tersimpan rapi di Museum Mulawarman. Inilah potret Museum Mulawarman dengan kepingannya yang tersisa…

Museum Mulawarman, Primadona Pariwisata
Museum Mulawarman merupakan salah satu obyek sejarah yang terletak di Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Museum Mulawarman terletak di Jalan Diponegoro, menghadap Sungai Mahakam. Museum Mulawarman sebelumnya adalah merupakan bagunan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara yang didirikan pada tahun 1936 oleh Estourgie dari Pemerintah Belanda (Hollandsche Beton Maatschppij (HMB)) di masa pemerintahan Sultan Adji Muhammad Parikesit. Bahan bangunannya didominasi dari beton, mulai ruang bawah tanah, lantai, dinding, penyekat hingga atap. Gaya Arsitektur bangunannya mengadopsi dari gaya arsitektur Eropa. Di halaman depan Museum Mulawarman ini terdapat Patung Lembu Swana yang merupakan lambang Kerajaan Kutai Kartanegara. Patung tersebut dibuat di Birma pada tahun 1855 dan terbuat dari perunggu Kapal.

Sebelum dialihfungsikan menjadi sebuah museum, bangunan istana ini pernah terbakar. Kemudian, dibangun kembali pada tahun 1963. Namun demikian, baru pada tanggal 25 Nopember 1971 diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur saat itu, H.A. Wahab Syahranie. Lima tahun kemudian, tepatnya tanggal 18 Februari 1976 Museum Mulawarman diserahkan Kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Museum Mulawarman menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kutai Kartanegara. Museum ini menggambarkan secara lengkap perjalanan sejarah Kerajaan Kutai yakni merupakan kerajaan tertua yang berdiri sejak abad ke 4 masehi. Museum Mulawarman juga merupakan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Kutai Kartanegara.

Setiap bulan November dilaksanakan Upacara Erau, yaitu tarian khas kedaton upacara adat dan mengulur naga di desa Kutai Lama. Pada setiap upacara Erau juga ditampilkan atraksi seni budaya baik berupa tarian tradisional dan upacara adat dari berbagai suku yang ada di Indonesia serta manca negara.

Koleksi Bersejarah
Museum Mulawarman terdiri dari dua lantai. Dilantai bawah banyak terdapat koleksi keramik dari negeri China, sedangkan dilantai satu berisi koleksi peninggalan bercorak kesenian. Museum Mulawarman memiliki 5.3.73 benda koleksi bersejarah dan terbagi dalam berbagai klasifikasi secara umum. Koleksi bersejarah itu antara lain koleksi geologi 55 buah, biologika 155 buah, etnografika 2.037 buah, arkeologi 43 buah, historika 1.295 buah, numismatika/ heraldika 880 buah, filologika 31 buah, keramologi 581 buah, seni rupa 197 buah, dan teknologika 99 buah. Benda-benda bersejarah itu terbuat dari berbagai bahan, yakni kayu, kulit kayu, kain, kuningan, besi dan lainnya sehingga kondisi ini menyulitkan dalam perawatan dan pelestarian benda cagar budaya yang tersimpan di museum. Dari jumlah 5.373 koleksi itu, terdapat 50 persen benda bersejarah yang terbuat dari bahan organik, dan yang 50 persen lagi terbuat dari bahan anorganik.

Di dalam Museum Mulawarman ini terdapat koleksi benda bernilai bersejarah yang masih tersimpan rapih dan terawat, benda-benda ini pernah dipergunakan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara, seperti :

1.             Singgasana, sebagai tempat duduk Raja dan Permaisuri yang terbuat dari kayu, dudukan dan sandarannya diberi lapisan kapuk yang berbungkus dengan kain berwarna kuning, sehingga tempat duduk dan sandaran kursi tersebut terasa lembut. Kursi dibuat dengan gaya Eropa, dan pembuatnya salah seorang Belanda bernama Ir. Vander Lube pada tahun 1935. Singgasana ini diapit dua arca Lembu Swana, sementara di latar belakangnya terdapat dua mozaik gambar Sultan Kutai Kartanegara ke-17 AM Soelaiman dan Sultan Kutai Kartanegara ke-18 AM Alimoeddin.

2.             Lukisan Sultan AM Parikesit.

3.             Patung perunggu dari Eropa.
4.             Lemari Kristal, yang menyimpan seperangkat alat upacara Pangkon Perak, perhiasan, keris dan tombak.
5.             Kursi santai yang biasa digunakan Sultan untuk beristirahat.
6.             Rehal atau alas kitab suci Al Qur’an dan kursi yang terbuat dari tanduk rusa Siberia serta tanduk rusa lokal yang biasa digunakan keluarga Sultan untuk mengaji
7.             Patung Lembuswana yang merupakan lambang dari Kesultanan Kutai, di buat di Birma pada tahun 1850 dan tiba di Istana Kutai pada tahun 1900. Lembu Swana diyakini sebagai tunggangan Batara Guru, nama lainnya adalah Paksi Liman Janggo Yoksi, yang berarti lembu yang bermuka gajah, bersayap burung, bertanduk seperti sapi, bertaji dan berkuku seperti ayam jantan, berkepala raksasa dilengkapi pula dengan berbagai jenis ragam hias yang dijadikan patung ini terlihat indah.
8.             Kalung Uncal, benda yang merupakan atribut dan benda kelengkapan kebesaran Kesultanan Kutai Kartanegara yang dipergunakan pada waktu penobatan Sultan Kutai menjadi Raja pada waktu Sultan merayakan hari kelahirannya, dan penobatan Sultan serta acara sakral lainnya.
9.             Meriam sapu jagad peninggalan VOC Belanda.
10.         Seperangkat alat kesenian tradisional gamelan dari Kraton Yogyakarta 1855.
11.         Arca peninggalan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yakni Kerajaan Kutai Martadipura dengan raja yang terkenal, Mulawarman.
12.         Koleksi ukir-ukiran khas dari suku Dayak Kenyah, Dayak Benuaq, Dayak Busang, Dayak Modang, Dayak Punan dan etnis Dayak lainnya.
13.         Ulap Doyo, hasil kerajinan Suku Dayak Benuaq. Dalam bahasa Dayak 'ulap' artinya kain panjang dan 'doyo' (Cucurligo sp.) adalah nama tumbuhan keluarga Hypoxidaceae yang memiliki daun seperti rumput. Dikenal lima jenis doyo yang dapat digunakan untuk menghasilkan tenun ulap doyo yaitu temoyo, pentih, tulang, biang, lingau.
14.         Topeng Hudoq.
15.         Senjata tradisional berupa kelian (perisai), sumpit, anak sumpit, bumbung yaitu tempat anak sumpit dari bambu
16.         Duplikat Prasasti Yupa, disini hanya disimpan dan dipajang duplikatnya saja, sedangkan untuk yang aslinya disimpan di Musium Nasional di Jakarta. Prasasti Yupa adalah prasasti yang ditemukan dibukit Brubus, Kecamatan Muara Kaman, ke-7 (tujuh) prasati ini menandakan dimulainya jaman sejarah Indonesia yang merupakan bukti tertulis pertama yang ditemukan berupa aksara pallawa dalam bahasa sanskerta. Kehadiran nama Mulawarman terpatri dalam 7 prasasti berupa tugu batu atau Yupa ini. Melalui prasasti itulah generasi masa kini mengenal Mulawarman -putra dari Raja Aswarman, atau cucu dari Maharaja  Kudungga- sebagai raja yang pernah memerintah di Kerajaan Kutai Martadinata yang berlokasi di Muara Kaman.
11.         Arca peninggalan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yakni Kerajaan Kutai Martadipura dengan raja yang terkenal, Mulawarman.
12.         Koleksi ukir-ukiran khas dari suku Dayak Kenyah, Dayak Benuaq, Dayak Busang, Dayak Modang, Dayak Punan dan etnis Dayak lainnya.
13.         Ulap Doyo, hasil kerajinan Suku Dayak Benuaq. Dalam bahasa Dayak 'ulap' artinya kain panjang dan 'doyo' (Cucurligo sp.) adalah nama tumbuhan keluarga Hypoxidaceae yang memiliki daun seperti rumput. Dikenal lima jenis doyo yang dapat digunakan untuk menghasilkan tenun ulap doyo yaitu temoyo, pentih, tulang, biang, lingau.
14.         Topeng Hudoq.
15.         Senjata tradisional berupa kelian (perisai), sumpit, anak sumpit, bumbung yaitu tempat anak sumpit dari bambu
16.         Duplikat Prasasti Yupa, disini hanya disimpan dan dipajang duplikatnya saja, sedangkan untuk yang aslinya disimpan di Musium Nasional di Jakarta. Prasasti Yupa adalah prasasti yang ditemukan dibukit Brubus, Kecamatan Muara Kaman, ke-7 (tujuh) prasati ini menandakan dimulainya jaman sejarah Indonesia yang merupakan bukti tertulis pertama yang ditemukan berupa aksara pallawa dalam bahasa sanskerta. Kehadiran nama Mulawarman terpatri dalam 7 prasasti berupa tugu batu atau Yupa ini. Melalui prasasti itulah generasi masa kini mengenal Mulawarman -putra dari Raja Aswarman, atau cucu dari Maharaja  Kudungga- sebagai raja yang pernah memerintah di Kerajaan Kutai Martadinata yang berlokasi di Muara Kaman.

Pada ruang bagian belakang terdapat minirama mengenai lahirnya lahirnya Aji Batara Agung Dewa Sakti yang kemudian menjadi raja Kutai Kartanegara pertama, lahirnya Puteri Karang Melenu yang kemudian menjadi permaisuri raja Kutai Kartanegara pertama, ada pula minirama pertambangan batubara, industri kayu, tanaman khas Kalimantan, Pesut Mahakam dan masih banyak lagi.

Selain itu, terdapat pula koleksi uang kuno yang pernah beredar pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Jepang hingga Indonesia merdeka. Sebelum keluar dari Museum Mulawarman, terlebih dahulu melewati ruang bawah tanah yang menyajikan koleksi ratusan keramik kuno buatan Cina, Thailand, Vietnam, Jepang, Eropa dan masih banyak lagi.

Sajian koleksi Museum Mulawarman ditutup dengan benda-benda koleksi nusantara seperti pakaian adat tiap provinsi di Indonesia, miniatur candi Borobudur dan Prambanan, tenunan dari daerah Sumatera, senjata tradisional serta alat musik tradisional.

Di luar Museum Mulawarman terdapat kompleks makam Sultan dan para kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara. Disinilah dapat dijumpai makam pendiri kota Tenggarong Aji Imbut gelar Sultan AM Muslihuddin, makam Sultan AM Sulaiman dan Sultan AM Parikesit.

Di kompleks Museum Mulawarman juga terdapat warung-warung yang menyajikan aneka makanan dan minuman. Tak hanya itu, kios-kios cenderamata juga tersedia bagi para wisatawan yang ingin membawa pulang kenang-kenangan khas Kalimantan Timur.

Kendala yang dihadapi dalam memelihara koleksi bersejarah itu antara lain, Museum Mulawarman di Tenggarong terletak tidak jauh dari sungai, sehingga kelembaban udara cukup tinggi, ditambah dengan tingginya curah hujan, maka semakin menambah tingginya tingkat kelembaban termasuk tipologi wilayah Kalimantan Timur yang berdataran rendah, sehingga sangat mempengaruhi terhadap ketahanan koleksi yang ada. Selain itu, Kalimantan Timur merupakan daerah industri, terutama industri batu bara termasuk di Kutai Kartanegara, akibatnya polusi udara juga sangat tinggi, debu dan kotoran yang beterbangan di udara sangat banyak. Kondisi ini juga memberikan dampak buruk bagi koleksi yang ada di museum, apalagi jika ditambah dengan minimnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya benda peninggalan sejarah dan budaya, yakni dengan sembarang menyentuh atau memegang saat mengunjungi museum.

Semoga Museum Mulawarman telah memantapkan diri sebagai museum provinsi yang mampu mempresentasikan selayang pandang sejarah maupun kekayaan budaya suku-suku di Kalimantan Timur. Semburat cahaya sejarahnya berkilau bak mutiara, semoga masih bersinar dan terus bersinar di segala penjuru Kutai Kartanegara.


Foto :

Museum Mulawarman Tenggarong tampak depan

Museum Mulawarman dengan gaya arsitektur Eropa

Patung Lembu Swana di depan Museum Mulawarman

Koleksi Meriam

Singgasana Raja Mulawarman dengan latar belakang mozaik

Mahkota Raja Kutai Kartanegara

Topeng Hudoq

Replika Prasasti Yupa

Sumpit (senjata khas Dayak)

Tempat Peraduan Raja

Ulap Doyo

Koleksi gerabah dari keramik

Makam Raja

Pasar Kerajinan Tangan di belakang Museum



2 komentar:

  1. salam super sahabat,
    tetap semangat dan sukses selalu ya
    ditunggu kunjungan baliknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. INI IMFORMASI YG CUKUP MEMBABNTU

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...